![]() |
| Ilustrasi pemain game dalam turnamen esports dari Pexels/Vladimir Srajber |
Setelah delapan tahun berjalan, Mobile Legends Professional League (MPL) Indonesia akhirnya kembali digelar sebagai ajang olahraga prestasi. Aku sendiri sempat ikut senang lihat gemerlap panggungnya, hadiah miliaran rupiah, sorak-sorai penonton, semuanya terasa seperti bukti kalau esports sudah naik kelas.
Tetapi begitu aku gali lebih dalam, ternyata di balik semua gebyar itu, esports masih harus berjuang di dua front sekaligus: diperdebatkan status keolahragaannya oleh masyarakat, dan diragukan masa depannya oleh orang tua sendiri di rumah.
Ironisnya, semakin jauh esports melangkah dalam masyarakat, sepertinya jarak yang harus ditempuh untuk mendapat restu dari rumah malah makin lebar.
Diatur Negara, Tapi Definisinya Masih Diperdebatkan
Meskipun esports sudah diatur lewat Undang-Undang dan Peraturan Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI), perdebatan soal apakah esports layak disebut "olahraga" ternyata belum juga selesai. Bahkan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, ikut angkat bicara dan menyatakan ketidaksetujuannya. Menurutnya, olahraga tetap perlu melibatkan kegiatan fisik, di luar sekadar aktivitas daring.
Di sisi lain, aku juga menemukan pendapat berbeda dari sejumlah peneliti yang nggak sepakat dengan pandangan tersebut. Mereka berargumen bahwa esports bisa disebut olahraga karena aktivitas bermain memang jadi landasan bagi semua jenis olahraga, dan pemain esports sendiri bermain video game secara sukarela demi kesenangan.
Esports juga dianggap sebagai aktivitas terorganisasi dengan tujuan jelas, tunduk pada aturan main, dan sudah berkompetisi di level global maupun internasional. Bahkan dibutuhkan keterampilan fisik tersendiri, seperti kecepatan menggerakkan jari lewat handphone, keyboard, atau mouse untuk meraih trofi dan uang tunai.
Tapi ada juga pihak yang justru sepakat dengan pandangan sang menteri. Menurut mereka, dua karakteristik utama olahraga yang dianggap belum sepenuhnya hadir dalam esports adalah penggunaan fisik tubuh secara menyeluruh dan pelembagaan (institusionalisasi) yang matang.
Karena masih ada ketidakjelasan pada dua aspek ini, wajar rasanya kalau esports belum bisa didefinisikan secara mutlak sebagai olahraga, sebab keduanya masih jadi bahan perdebatan panjang.
Stigma Turun-Temurun, Bukan Berdasarkan Bukti
Ini bagian yang menurutku paling menyentuh, karena rasanya banyak dari kita mungkin pernah dengar cerita serupa dari orang lain atau bahkan teman. Banyak orang tua merasa bingung, bahkan menolak, ketika anaknya ingin ikut serta dalam kompetisi esports.
Keengganan ini biasanya muncul dari keyakinan bahwa esports cuma kegiatan yang membuang-buang waktu tanpa manfaat jelas. Nggak jarang pemain esports dicap malas, karena "pekerjaan" mereka cuma terlihat seperti main game yang bisa disaksikan langsung oleh orang tua setiap hari di rumah.
Selain itu, banyak orang tua yang masih kurang familiar dengan karier-karier baru seperti menjadi atlet esports profesional. Mereka melihat aktivitas anaknya di dunia esports seolah nggak akan membawa keuntungan apa pun, bahkan menganggap profesi ini nggak bisa dijadikan pekerjaan yang layak.
Dalam pandangan ini, orang tua kerap merasa anaknya sudah salah jalan dalam memilih esports sebagai jalur kariernya.
Nggak jarang pula orang tua membandingkan pemain esports dengan anak-anak yang bekerja secara konvensional, padahal asumsi itu jauh berbeda dari kenyataan yang sebenarnya dijalani para pemain esports.
Ada juga anggapan bahwa bermain game nggak baik untuk kesehatan anak. Padahal, prestasi, penghasilan, dan disiplin latihan ketat yang dijalani atlet esports profesional jarang terlihat oleh mereka yang cuma menonton dari luar layar.
Kabar baiknya, orang tua ternyata bisa jadi lebih terbuka kalau anaknya berhasil meraih kesuksesan nyata di dunia esports. Liputan media yang lebih positif juga terbukti bisa mengubah pandangan negatif dan mengurangi penolakan orang tua terhadap partisipasi anak mereka di dunia ini.
Menang di Panggung, Damai di Rumah
Dari semua yang aku baca, ada dua hal yang terbukti bisa bikin orang tua lebih terbuka: prestasi nyata yang diraih pemain, dan liputan media yang lebih seimbang serta positif terhadap esports. Tapi menurutku, mengandalkan keberuntungan atau sorotan media saja jelas nggak cukup untuk mengubah pandangan secara menyeluruh.
Ada dua langkah mendesak yang menurutku perlu segera dilakukan. Pertama, negara dan federasi seperti PBESI perlu menyelaraskan definisi esports sebagai olahraga secara jelas, bukan cuma lewat aturan tertulis di atas kertas, tapi juga lewat edukasi langsung ke tingkat keluarga, bukan sekadar menyasar komunitas gamer saja.
Kedua, ekosistem esports perlu lebih transparan dalam menunjukkan jalur karier yang jelas, mulai dari proses pelatihan, jaminan pendapatan, sampai gambaran masa depan setelah masa kompetisi berakhir, supaya orang tua bisa merasa lebih tenang melepas anaknya menekuni jalur ini.
Selama dua langkah ini belum berjalan bersamaan, aku rasa esports akan terus menang di pertandingan nasional maupun internasional, tapi tetap kalah di meja makan keluarga sendiri. Terlepas dari perdebatan yang masih berlangsung, kita jelas butuh pemahaman yang lebih dalam soal apa saja yang sebenarnya memengaruhi sikap orang tua terhadap partisipasi anak dalam dunia esports.

0 Komentar