![]() |
| Ilustrasi Studio Ghibli dari Pixabay/Facusio |
Mengenal Studio Ghibli, Sang Pencipta Gaya yang Kini Ditiru AI
Sebelum gaya ini jadi bahan editan AI di ponsel kita, Studio Ghibli sudah lebih dulu jadi legenda di dunia animasi. Studio asal Jepang ini didirikan oleh empat orang dan sudah mengumpulkan banyak penghargaan bergengsi, seperti Golden Bear tahun 2002 dan Academy Award untuk Film Animasi Terbaik tahun 2003 lewat Spirited Away. Setahun berselang, mereka kembali meraih Golden Globe untuk Film Animasi Terbaik lewat The Boy and the Heron.
Yang bikin karya Ghibli gampang dikenali adalah kombinasi emosi yang dalam, nuansa seperti buku dongeng, warna-warna pastel yang menenangkan mata, elemen fantasi yang membaur dengan kehidupan nyata, serta pemandangan alam yang selalu bikin kita ingin berhenti sejenak dan menikmatinya.
Nggak heran kalau gaya visual ini jadi salah satu yang paling sering "dicomot" AI ketika orang-orang ingin membuat karya seni tanpa perlu bisa menggambar sama sekali.
Dengan bantuan ChatGPT, Gemini, dan berbagai alat AI lainnya, siapa pun sekarang bisa mengubah foto sehari-hari jadi karya bernuansa Ghibli hanya dalam hitungan detik. Di Indonesia sendiri, tren ini berkembang cepat banget, dari sekadar iseng-iseng di media sosial sampai berubah jadi peluang bisnis baru buat sebagian orang.
Gen Z Terbelah: Ini Seni atau Cuma Plagiarisme?
Menariknya, nggak semua orang senang lihat tren ini. Kalau ngobrol sama teman-teman Gen Z, ada dua kubu pendapat yang cukup berlawanan.
Sebagian merasa gambar hasil AI ini nggak pantas disebut karya seni. Alasannya masuk akal juga: nggak ada proses kreatif panjang yang biasanya jadi "nyawa" dari sebuah karya seni. AI cuma menjalankan perintah dari prompt, dan hasilnya sering dianggap terlalu mirip aslinya sehingga terasa seperti plagiarisme.
Ada yang bilang gambar buatan mesin itu nggak punya "jiwa" seperti lukisan atau ilustrasi yang dibuat manusia dengan tangan sendiri. Memakai gaya khas Ghibli tanpa izin pun dianggap sebagai bentuk menjiplak karya orang lain.
Tapi di sisi lain, ada juga yang melihat celah kesempatan di sini. Buat sebagian orang, membuat dan menjual gambar AI bergaya Ghibli adalah cara seru untuk mencoba hal baru, mencari penghasilan tambahan, menghemat waktu produksi, atau sekadar having fun.
Ini menunjukkan kalau AI nggak melulu soal hiburan semata, tapi juga bisa jadi alat kerja yang membantu orang lebih produktif dan kreatif dalam berkarya visual.
FOMO: Alasan Psikologis di Balik Viralnya Foto AI Gaya Ghibli
Nah, ini bagian yang menurutku paling relate. Kenapa sih kita jadi gampang banget ikut tren begini? Jawabannya ada pada satu istilah yang mungkin sudah sering kamu dengar: FOMO, alias Fear of Missing Out, rasa takut ketinggalan.
Membagikan foto bergaya Ghibli di media sosial sebenarnya adalah taktik pemasaran yang cukup efektif, karena menyentuh kebutuhan dasar kita untuk merasa jadi bagian dari kelompok. Ketika teman-teman kita ramai-ramai posting sesuatu, ada dorongan alami dalam diri kita untuk ikut terlibat juga, supaya nggak merasa tertinggal atau terasing dari circle pertemanan.
FOMO sendiri adalah fenomena yang mendorong seseorang untuk terus mengejar koneksi, informasi, atau pengalaman baru agar terhindar dari rasa ketinggalan.
Dalam dunia marketing, perasaan ini sering "dimainkan" dengan sengaja untuk mendorong urgensi dan keterlibatan seseorang, memanfaatkan kebutuhan emosional yang muncul dari rasa takut kehilangan momen berharga.
Seperti kata yang saya kutip soal fenomena ini:
Semakin besar perasaan tertinggal (FOMO) seseorang, maka akan semakin besar pula keterlibatannya dalam sebuah tren.
Semakin besar perasaan tertinggal (FOMO) seseorang, maka akan semakin besar pula keterlibatannya dalam sebuah tren.

0 Komentar