Kehidupan di Balik Cosplay: Bukan Sekadar Pakai Kostum

Ilustrasi cosplayer sedang berpose dari Pexels/TBD Tuyên

Aku dulu mikir cosplay itu sesederhana pakai kostum karakter favorit terus foto-foto. Ternyata, setelah gali lebih dalam, ada sisi psikologis yang jauh lebih menarik di baliknya, yaitu soal alter ego. Fenomena ini nggak cuma populer di Jepang sebagai negara asal budaya pop yang melahirkannya, tapi juga menyebar luas ke Amerika, Cina, Indonesia, dan banyak negara lain.

Pertanyaannya, kenapa sih orang rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang buat berubah jadi karakter lain? Jawabannya ternyata berkaitan erat dengan konsep alter ego, identitas kedua yang muncul dari dalam diri kita sendiri.

Apa Itu Cosplay dan Alter Ego? Ini Penjelasannya

Menurut Wikipedia, cosplay adalah hobi mengenakan kostum, aksesoris, dan makeup untuk meniru tokoh dari berbagai media hiburan. Jadi, siapa pun bisa dibilang sedang cosplay kalau ia mengenakan sesuatu yang menyerupai karakter idamannya, nggak peduli dari media hiburan apa atau di negara mana acaranya diadakan.

Nah, di sinilah alter ego masuk ke gambaran besarnya. American Psychological Association (APA) mendefinisikan alter ego sebagai identitas kedua seseorang, semacam "versi lain" dari dirinya dengan karakteristik yang berbeda dari kepribadian aslinya. Sederhananya, untuk bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya ingin ia lakukan, seseorang perlu "berganti kulit" dulu, mengubah identitasnya untuk sementara waktu.

Kenapa Cosplay dan Alter Ego Saling Berkaitan?

Coba bayangkan kamu penggemar berat anime. Lewat cosplay, kamu bisa mengenakan pakaian sesuai karakter favorit sambil sekaligus mengeksplorasi sisi dirimu yang mungkin selama ini tersembunyi, dan tentunya berinteraksi dengan orang-orang di sekitar yang punya minat serupa. Banyak cosplayer bahkan rela menyewa atau membuat kostum sendiri demi bisa tampil maksimal dan menunjukkan identitas mereka sebagai seorang cosplayer sejati.

Riset yang dilakukan Riansyah, menemukan hal menarik: saat bercosplay, seseorang nggak cuma memakai kostum karakter fiksi, tapi juga benar-benar "menjadi" karakter itu. Mereka memainkan peran, berbicara, dan berinteraksi dengan orang lain sesuai sifat karakter dalam cerita aslinya. Bahkan, beberapa aspek dari karakter itu bisa berubah tergantung siapa yang memakainya, karena setiap orang membawa sentuhan personalnya masing-masing.

Yang menarik, ada bagian dari identitas karakter yang tentu saja nggak mungkin dibawa ke kehidupan sehari-hari. Nah, bagian-bagian itulah yang justru "disimpan" khusus untuk dipakai saat mengenakan kostum. Di titik inilah cosplay bisa membuat seseorang merasakan sensasi menjadi orang lain, entah itu berbeda dari kepribadian aslinya atau bahkan dari karakter fiksi yang ia tiru. Sensasi inilah yang disebut sebagai alter ego.

Lebih jauh lagi, alter ego bisa dipakai untuk menampilkan karakter dari cerita berbeda tapi punya sisi psikologis yang mirip, atau justru menggambarkan karakter fiksi lengkap dengan perilaku dan cara bicaranya. Konsep ini juga sering diterapkan pada peran yang dimainkan aktor atau siapa pun yang berperan dalam bentuk lain. Jadi, saat cosplay, seseorang sebenarnya sedang menciptakan karakter barunya sendiri, sebuah sosok yang hanya muncul ketika mereka bermain cosplay.

Karakter baru ini tetap terinspirasi dari tokoh fiksi idola mereka, tapi sering dipadukan dengan sentuhan orisinal buatan sendiri. Hasilnya, mereka berinteraksi bukan sebagai diri mereka sehari-hari, melainkan sebagai sosok baru yang mereka rancang sendiri.

Proses ini biasanya dimulai dari rasa kagum terhadap karakter yang ingin ditiru. Di awal, muncul rasa tertekan karena karakter tersebut terasa begitu sempurna dan jauh berbeda dari kepribadian asli kita, sehingga terasa sulit untuk ditiru. Tetapi perlahan-lahan, kita "meminjam" sisi lain dari diri kita sendiri untuk beradaptasi dan menirukan karakter itu, baik dari segi pakaian, perilaku, maupun kepribadiannya.

Alasan di Balik Kenapa Orang Suka Cosplay

Menurut penelitian Amiralda & Putri, ada banyak alasan kenapa seseorang tertarik terjun ke dunia cosplay. Sebagian melakukannya sebagai cara mengekspresikan kreativitas dan menyalurkan sisi seni dalam diri. Ada juga yang ingin menunjukkan karakter favoritnya, merasakan sensasi menjadi sosok berbeda, atau sekadar menampilkan hal-hal yang mereka minati. Nggak sedikit pula yang menjadikan cosplay sebagai sarana mengembangkan kepribadian dan menemukan identitas diri yang lebih utuh.

Cara orang menikmati cosplay pun beragam. Ada yang senang tampil di acara-acara bertema khusus, ada juga yang lebih nyaman melakukannya di rumah, entah sekadar swafoto dengan kostum atau mengikuti sesi pemotretan pribadi. 

Aktivitas ini melibatkan banyak keterampilan, mulai dari merancang dan membuat kostum sendiri, merias wajah, hingga membuat aksesoris pendukung. Menariknya, kamu nggak harus gabung komunitas tertentu untuk mulai cosplay, tapi begitu kamu melakukannya, secara nggak sadar kamu sudah jadi bagian dari komunitas itu.

Secara umum, kegiatan cosplay tergolong sederhana, seperti lomba memperagakan busana, sesi foto, dan pertunjukan panggung. Para peserta memakai pakaian, wig, perhiasan, dan makeup untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan. 

Saat acara berlangsung, para cosplayer berusaha menyampaikan emosi mereka lewat penampilan di atas panggung atau lewat foto dan video yang kemudian dibagikan di media sosial, dan momen itu jadi kepuasan tersendiri buat mereka.

Manfaat Cosplay yang Nggak Disangka-sangka

K.C., salah satu informan dalam penelitian Amiralda dan Putri, membagikan pengalamannya soal keuntungan menjadi cosplayer. Salah satunya adalah berkembangnya kreativitas serta keterampilan dalam makeup dan pembuatan properti cosplay. Awalnya K.C. cuma melakukan cosplay untuk mengisi waktu luang, tapi semakin sering ia mencoba berbagai kostum, semakin tertarik pula ia pada tren kosmetik, dan ia mulai menyadari betapa besar kemampuannya berkembang seiring waktu.

Punya komunitas sesama cosplayer juga memberi manfaat tersendiri buat K.C. Mereka saling mendukung penampilan satu sama lain, bahkan rela memberi saran soal cara merias diri. Ada juga manfaat tak terduga lainnya, seperti saran dari para penggemar yang kemudian ia jadikan referensi saat membeli atau menyewa aksesoris cosplay.

Lebih dari itu, cosplay juga membantu K.C. meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan membuatnya lebih percaya diri. Ia merasa dihargai, apalagi saat banyak orang berkumpul dan meminta foto bersama. Meski melelahkan, ia tetap bahagia karena merasa keberadaannya diakui. Antrean panjang orang yang ingin berfoto dengannya jadi bukti nyata keberhasilan penampilan cosplaynya.

Berkat statusnya sebagai cosplayer sekaligus influencer ternama, K.C. juga mendapat berbagai keuntungan tambahan, mulai dari sponsor, akses tiket konvensi gratis, area VIP, hingga ruang ganti khusus. Ia juga berkesempatan bergaul dengan cosplayer-cosplayer hebat dan berpengalaman yang dulu ia kagumi dari kejauhan sebelum ia aktif di media sosial. Nggak jarang pula ia diundang sebagai tamu di berbagai acara sambil menikmati minuman gratis.

Informan lain juga merasakan manfaat serupa, terutama dalam hal mendapat teman baru dan serunya berinteraksi dengan sesama komunitas cosplay. Banyak yang merasa telah menemukan teman-teman baru dengan hobi yang sama, dan karena mereka berubah jadi orang lain saat bercosplay, mereka jadi lebih leluasa mengekspresikan perasaan dan sifat aslinya.

Sisi Gelap yang Jarang Dibicarakan

Sayangnya, nggak semua cerita cosplay berakhir manis. Di balik serunya jadi pusat perhatian, ada risiko yang kerap luput dari sorotan. Jumlah orang yang ingin berfoto bersama seorang cosplayer memang sering dijadikan tolok ukur keberhasilan penampilannya, tapi di sisi lain, hal ini juga bisa membuat penggemar atau kerumunan massa memperlakukan cosplayer sebagai objek semata.

Situasi yang nggak menyenangkan seperti pelecehan pun bisa saja terjadi, terutama bagi cosplayer perempuan yang menampilkan sisi feminin dari karakter yang mereka perankan. Rasa nggak nyaman ini biasanya makin terasa ketika mereka terus-menerus dihampiri banyak orang di tengah keramaian acara, tanpa ruang untuk sekadar bernapas sejenak.

Jadi, Cosplay Itu Lebih dari Sekadar Kostum

Ternyata cosplay bukan cuma soal siapa yang punya kostum paling detail atau makeup paling mirip karakter aslinya. Ada perjalanan psikologis yang cukup dalam di baliknya, mulai dari rasa kagum, proses menemukan alter ego, sampai keberanian menampilkan sisi diri yang mungkin selama ini tersembunyi. 

Di saat yang sama, dunia cosplay juga mengajarkan kita pentingnya menghormati batasan orang lain, terutama soal kenyamanan dan keamanan para cosplayer saat tampil di depan umum.

Kalau kamu sendiri, pernah kepikiran buat coba cosplay karakter favorit, atau justru sudah jadi bagian dari komunitas ini?

Posting Komentar

0 Komentar